
social.group.members
Need a safe space to discuss your mental health? Please always remember to SEEK HELP when things get bad 💛 Never suffer alone 🤝
@Lisa58199758
Dapat atau tidak, ntahlah hidup terus berjalan. Bahkan memikirkan kannya pun jika tidak dimiliki tak apa. Sedang menonton keindahan hidup orang lain, tanpa tahu riwayat kelamnya.
Dan aku mungkin sedang diposisi kelam itu
@yaniii15
Nyari kumpulan high quality of jomblo di mana ya? Biar tertular
@Setiatheoneandonly
Artis cinta laura kiehl memberikan pernyataan yang brilian bahwa dia tidak setuju dengan perkataan wanita di usia tertentu itu wanita kadaluarsa padahal itu tidak benar kata cinta laura wanita itu akan selamanya menjadi wanita cantik cerdas dan brilian , apakah kamu setuju dengan pendapat artis cinta laura kiehl ini? Oya dan usia cinta laura kiehl ini sudah 32 tahun mau 33 tahun lho dan belum menikah.. artis agnes monica apalagi dia sudah usia 40 tahun..
@Taufiqoh
Me time baca buku sendiri di rumah, disela-sela jam menjemput anak pulang sekolah rasanya begitu damai. Terkadang yang namanya sepi, hening, dan sendiri itu juga tidak terlalu buruk dan tidak semenakutkan itu.
Sepi dan hening adalah sebuah kejadian/ keadaan, namun semua tergantung pada respon pikiran kita. Jika kita merespon dengan positif maka hasilnya adalah damai, tenang, dan pikiran lebih fresh.
Namun ketika kita merespon dengan pikiran negatif maka hasilnya adalah mencekam, ketakutan,dll
@MA60770057
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Halo Sahabat Muzz ☺️....
Banyak orang salah kaprah setiap kali mendengar kata "standar" dalam hubungan.
Pikiran mereka lsg melompat ke hal-hal fisik dan finansial: harus ganteng/cantik, mapan, punya mobil, atau bergelimang harta.
Padahal, standar itu sebenarnya sgt fleksibel dan personal sesuai kebutuhanmu. Standar dalam suatu hbgn bukan ttg seberapa tampan /cantik, tebal dompet seseorang, melainkan ttg kecocokan nilai hidup dan pemenuhan kebutuhan psikologis masing2.
Bagi sebagian orang, standar tinggi itu sederhana, contohnya:
Menetapkan standar bukan bentuk kesombongan atau rasa pilih2 yg dangkal. Itu adlh bentuk tanggung jawab kita utk mengurangi resiko mental di masa depan.
Jadi, kalau ada orang yg pasang standar tinggi, jgn lsg dicap "matre" atau "banyak mau". Bisa jadi, standar mereka ada di area komunikasi dan kematangan mental yg kebetulan gak terlihat oleh. matamu.
Berhenti menyempitkan arti standar hanya sebatas materi, karena suatu hbgn itu dijalani dengan jiwa dan logika, bukan cuma dengan kulit luar.
Salam hangat
🫰❤️
@Rika88339234
Gini orang yg selalu mementingkan orang lain sampe lupa saya juga perlu di perhatikan sibuk mengejar dunia
@anggaWijaya63170482
main aplikasi ini semakin membuat ku minder😓
@MA60770057
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sahabat Muzz Semua... ☺️
Pernah gak kamu bertanya2, knp korban pelecehan seksual memilih untuk diam dan memendam traumanya bertahun daripada speak up atau melapor?
Jawabannya bukan krn mereka takut pada pelaku, melainkan karena mereka takut pada masyarakat.
Lho kok gitu?
Saat seorang korban berani bersuara, publik/masarakat srg kali mendadak berubah menjadi ruang sidang. Netizen/masyarakat yg gak tahu apa2 berubah jadi "hakim baru" yg kejam.
Bukannya memberikan perlindungan dan empati, para hakim baru ini justru sibuk melakukan victim blaming (menyalahkan korban).
Muncul pertanyaan2 seperti:
"Knp bajunya begitu?"
"Knp baru lapor sekarang?" atau
"Jgn2 sama2 mau."
Dampaknya sgt mengerikan bagi psikologis korban: Trauma Ganda (Secondary Trauma)
Korban mengalami kehancuran mental dua kali.
Pertama akibat tindakan pelaku, dan kedua akibat penghakiman serta sanksi sosial dari masyarakat.
Hilangnya rasa aman di ruang publik yg seharusnya menjadi tempat mencari keadilan justru berubah menjadi tempat yang mengintimidasi dan menelanjangi privasi korban.
Suburnya Kriminalitas ketika korban dibungkam oleh penghakiman masyarakat, pelaku di luar sana justru bisa bebas dlm rasa aman karena tahu korbannya gak akan berani melapor.
Sahabat semua, dlm menangani kasus sensitif seperti ini, mari kita matikan ego untuk merasa paling suci atau paling tahu segalanya.
Lalu, bagaimana cara kita melindungi korban di ruang publik?
Jaga jempolmu dan jaga mulutmu bukan untuk menghakimi. Jika belum bisa membantu secara hukum atau psikologis, minimal diam dan jangan berkomentar yang menyudutkan korban (victim blaming).
Fokus pada tindakan pelaku, bukan kehidupan korban. Berhenti menganalisis pakaian, waktu kejadian, atau masa lalu korban. Kejahatan tetaplah kejahatan.
Sediakan ruang aman untuk bersuara. Dukung korban untuk melapor ke lembaga hukum resmi atau psikolog, dan lindungi privasi mereka dari serangan sanksi sosial netizen.
Jgn biarkan kata-kata kita menjadi bagian dari rantai pembungkaman korban kejahatan, bukan cuma penonton yang pintar menghakimi.
Salam hangat 🫰❤️
@Taufiqoh
Dirimu di masa lalu adalah sebuah kekuatan untuk dirimu di masa sekarang dan masa depan..