
4.726.919 anggota
Dari perilaku manusia hingga perspektif neurodiverse, jelajahi cara kita berpikir, merasakan, dan mengalami dunia 🧠
@Masrifah_azzahra
Perjalanan terjauh manusia adalah dari pikirannya menuju hatinya.
Karena ada jarak yang tidak bisa ditempuh hanya dengan pengetahuan.
Kita bisa paham kenapa sesuatu terjadi, tapi belum tentu bisa berdamai dengannya.
Kita bisa tau harus melepaskan, tapi diam-diam masih menggenggamnya.
Kita bisa mengerti arti cinta, tapi tetap kesulitan menjalaninya saat berhadapan dengan takut kita sendiri.
Pikiran memang bisa menemukan alasan untuk segalanya.
Tapi memahami secara logis, tidak selalu membuat hati mampu menerima.
Ada hal yang baru kita pahami setelah kehilangan.
Ada kebenaran yang baru terasa nyata setelah kita mengalaminya sendiri.
Dan ada pemahaman yang tidak akan mengubah hidup, sampai kita berani menjalaninya.
Mungkin itulah bagian tersulit dari bertumbuh.
Bukan menemukan kebenaran yang baru,
melainkan belajar hidup berdasarkan kebenaran yang sebenarnya sudah kita ketahui.
Sampai akhirnya kita tidak lagi sekadar memahami hidup dengan pikiran,
tapi juga mampu menjalaninya dengan hati...✍️
@Nafi77
KECERDASAN Seseorang dibagi menjadi beberapa bagian Contohnya :
Dalam psikologi modern, konsep kecerdasan tidak lagi dilihat hanya sebagai satu angka tunggal (seperti skor IQ), melainkan dibagi ke dalam beberapa dimensi yang lebih luas. Teori yang paling populer dan banyak digunakan untuk mengklasifikasikan kecerdasan manusia adalah Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang dikemukakan oleh psikolog Howard Gardner.
Berikut adalah pembagian jenis kecerdasan menurut Howard Gardner beserta pengelompokan kecerdasan secara umum (IQ, EQ, SQ):
1. Teori Kecerdasan Majemuk (Howard Gardner)
Gardner membagi kecerdasan manusia menjadi 9 jenis utama:
Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence): Kemampuan menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan (contoh: penulis, orator, jurnalis).
Kecerdasan Logis-Matematis (Logical-Mathematical Intelligence): Kemampuan berpikir secara logis, menganalisis masalah, memperhitungkan angka, dan melakukan investigasi ilmiah (contoh: ilmuwan, matematikawan, pemrogram).
Kecerdasan Spasial-Visual (Spatial-Visual Intelligence): Kemampuan mengenali dan memvisualisasikan pola ruang dan bentuk secara akurat (contoh: arsitek, desainer, seniman).
Kecerdasan Kinestetik-Jasmani (Bodily-Kinesthetic Intelligence): Kemampuan menggunakan seluruh tubuh untuk memecahkan masalah atau membuat produk, memiliki koordinasi fisik, ketangkasan, dan keterampilan motorik yang tinggi (contoh: atlet, penari, penata rambut/hairstylist profesional, perajin).
Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence): Kemampuan menangkap, membedakan, menciptakan, dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik, ritme, serta nada (contoh: musisi, komponis, penyanyi).
Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence): Kemampuan memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain, peka terhadap suasana hati, motivasi, serta perasaan orang di sekitar (contoh: pemimpin, konselor, tenaga pendidik).
Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence): Kemampuan memahami diri sendiri secara mendalam, mengenali emosi, kekuatan, kelemahan, serta motivasi pribadi untuk mengarahkan diri (contoh: filsuf, psikolog, pemikir mandiri).
Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence): Kemampuan mengenali, menggolongkan, dan memanfaatkan unsur-unsur alam, flora, fauna, serta lingkungan sekitar (contoh: ahli biologi, pecinta alam, petani).
Kecerdasan Eksistensial (Existential Intelligence): Kemampuan dan kepekaan dalam merenungkan pertanyaan mendalam tentang keberadaan manusia, arti hidup, makna kematian, dan realitas kosmik.
2. Klasifikasi Umum (IQ, EQ, SQ)
Selain teori majemuk di atas, kecerdasan juga sering dikelompokkan ke dalam tiga pilar utama:
IQ (Intelligence Quotient / Kecerdasan Intelektual): Berkaitan dengan kemampuan penalaran, logika, memori, dan pemecahan masalah akademis.
EQ (Emotional Quotient / Kecerdasan Emosional): Berkaitan dengan kemampuan mengenali, mengelola emosi diri sendiri, serta berempati dan membangun hubungan dengan orang lain.
SQ (Spiritual Quotient / Kecerdasan Spiritual): Berkaitan dengan kemampuan menemukan makna, nilai, dan tujuan hidup yang luhur serta terhubung dengan nilai-nilai kebijaksanaan universal.
Setiap individu biasanya memiliki kombinasi unik dari berbagai jenis kecerdasan di atas, di mana beberapa aspek mungkin lebih menonjol dibanding yang lain.
Dari berbagai jenis kecerdasan di atas, bidang atau jenis kecerdasan apa yang paling Anda rasakan menonjol atau paling sering Anda gunakan dalam aktivitas sehari-hari?
Berjuang
@Norkholes
Cari calon istri siapa tau ada di aplikasi ini 😁
@mbakniat
Hai 😶
@imam84727159
Waktu akan merubahnya jadi sebuah Kenangan...
@imam84727159
@iskan_ig888
MENGAPA SEORANG NPD TAK PUNYA RASA EMPATI ?
Dalam psikologi,seseorang dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) dapat mengalami kesulitan memahami dan mempertimbangkan perasaan orang lain.ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi hal tersebut.
Terlalu fokus pada dirinya sendiri.
Ia cenderung lebih memprioritaskan kebutuhan dan keinginannya sendiri sehingga perasaan orang lain bisa terabaikan.
Sulit memahami luka emosional orang lain.
Ia mungkin mengetahui bahwa seseorang sedang terluka tapi kesulitan memahami betapa dalam dampak emosional yang dirasakan orang tersebut.
Ego lebih diutamakan daripada perasaan orang lain.ketika harga dirinya terasa terancam,ia bisa lebih sibuk membela diri daripada memahami rasa sakit yang ditimbulkannya.
Sulit mengakui kesalahan.
Mengakui kesalahan dapat terasa seperti ancaman terhadap citra dirinya sehingga ia mungkin memilih menyangkal,membela diri atau menyalahkan orang lain.
Kurang peka terhadap kebutuhan emosional orang lain.
Ia bisa lebih memperhatikan apakah dirinya dihargai daripada apakah orang lain merasa dihormati dan dipahami.
Empati tidak selalu muncul secara konsisten. Seseorang dengan NPD mungkin mampu memahami perasaan orang lain dalam situasi tertentu,tapi kesulitan menunjukkan kepedulian ketika dirinya merasa dikritik atau direndahkan.
Kesulitan berempati bukan berarti semua orang dengan NPD sama sekali tidak memiliki empati. Setiap individu berbeda dan perilaku egois saja tidak cukup untuk menentukan seseorang mengalami NPD.
Terkadang,yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan bukan hanya perkataan yang melukai, tetapi juga ketika rasa sakit kita seolah tidak dianggap penting.
Sang Bintang | Dunia Psikologi.
@erni62730602
Lama lama capek jg kenalan di muzz ini
Bbrp kasih wa terpaksa akhirnya sy yg blokir akunnya Krn setelah di cek , kok byk wa yg ga bisa di liat di get contact haduhhhh
Untung tiap mau kasih nomor wa sy ga sembarangan , sy suruh mrk kasih dulu
Kenapa ya ,kalo niatnya baik , ya kasih no wa yg memang dikenal masyarakat umum dan bisa di cek di get contact gituuu
Psikologinya , org yg transparan lebih bisa dipercaya drpd org yg tersembunyi
@imam84727159