Group Hero

Kesehatan mental

4.745.744 anggota

Butuh ruang aman untuk membahas kesehatan mentalmu? Selalu ingat untuk MENCARI BANTUAN saat keadaan memburuk 💛 Jangan pernah menderita sendirian 🤝

Bagikan grup
Anonim

sekitar 7 jam yang lalu

kaka" yg baik hati mohon pencerahannya dong, saya baru saja kena tipu sebesar 500k sama cowok yg baru saya kenal di apk ini, menurut saya itu cukup besar bagi saya, karena cara saya mendapatkan uang sebesar itu saya harus banting tulang selama sebulan🥲 dan si penipu itu masih aktif di apk ini, harap kaka" berhati" juga

Bagikan
Ji

@ji170

sekitar 11 jam yang lalu

Gimana caranya biar ga kesepian, upgrade diri, nemu relasi baru

3 Suka
3
Bagikan
Asef Dorez

@Asefdorez

1 hari yang lalu

Halo aku aslii orang Sunda sekarang lagi ngerantu di batam.bete ni GK ada temnyh di Batam lagi cari teman buat ngobrol ajj😊

Bagikan
Ji

@ji170

1 hari yang lalu

Kesepian gapunya temen gapunya pasangan, bosen umur segini masi gini gini aja, ajakin upgrade diri tolong 😔

4 Suka
8
Bagikan
Ji

@ji170

1 hari yang lalu

Pengen upgrade diri tapi bingung mulai darimana

1 Suka
Bagikan
Dwi Astuti

@DwieManiz

2 hari yang lalu

Entah lah😞

15 Suka
3
Bagikan
Nur Fadilah

@nurfad

2 hari yang lalu

Salah satu tindakan yg bkin mental sehat (my way) adalah .....
Ngebiarin org2 yg pergi tanpa sebab
Mau itu temen apalagi gebetan
Gausah dicegah, dibujuk, apalgi sampe rela lakuin apapun biar dia ga pergi. JANGAN yaa..
Kasian diri kamu, kamu yg sakit sendiri soalnya.
Biarin aja, gausah dipikirin. Dia jg ga mikirin kamu kok. Kalo dia mikirin, dia gaakan pergi tanpa sebab.
Be happy guys
Berlaku bagi men n women

7 Suka
2
Bagikan
icha Ku

@icha75131815

2 hari yang lalu

Lebih tenang skrng

1 Suka
4
Bagikan
Dwi Astuti

@DwieManiz

2 hari yang lalu

Buat para pengguna Akun fake dan para scamer aq udh paham ciri2nya krna udh pengalaman dan itu gk cuma satu kali dua kali.
Buat para ledies, hati2 biasanya dy mengaku sebagai anggota kepolisian abri atau TNI. Atau biasanya juga memgaku pekerja offshore(pekerja laut lepas atau pantai)
Memajang foto orang ganteng dan minta lngsung pacaran atau mnjalin suatu hbungan. Hati2 yaaa waspada.

52 Suka
39
Bagikan
Jumeri Kod

@Jumeri

2 hari yang lalu

Jodoh

Seorang laki-laki menyukai seorang perempuan. Ia mendekatinya, mencoba mengenalnya lebih jauh, dan membuat dirinya dikenal. Mereka menjadi lebih dekat, kemudian pacaran. Akhirnya mereka menikah. Mereka berjodoh.

Ada 2 orang yang sudah pacaran lama, sudah bertunangan, bahkan sudah mencetak undangan, tapi akhirnya tak jadi menikah. Mereka tak berjodoh.

Jadi, kalau menikah artinya mereka berjodoh? Ternyata tidak juga. Orang yang sudah menikah, ternyata akhirnya bercerai. “Ternyata dia bukan jodoh saya,” katanya. Lhaaa, lalu jodoh itu apa?

Orang percaya jodoh itu sudah diatur. Asam di gunung, garam di laut, bertemu di dalam panci. Kalau jodoh tak lari ke mana. Kalau sudah ditentukan, apakah dengan diam saja seseorang akan dapat jodoh? Ternyata tidak juga. Harus ada usaha agar dipertemukan dengan jodoh. Lho, kalau sudah ditetapkan, bukankah seharusnya pertemuan pun diatur oleh yang menetapkan?

Sebaliknya, seperti cerita di atas tadi, 2 orang sudah berdua, berencana menikah, eh ada saja halangannya. Itu karena mereka tidak berjodoh. Yang mengatur tadi tidak akan membiarkan orang-orang tak berjodoh itu bersatu.

Sebenarnya bagaimana sih? Konsep jodoh lahir dari kesimpulan bias manusia atas kejadian di sekitar ruang hidupnya. Ada banyak kejadian yang mereka anggap tidak masuk akal, tapi terjadi juga. Nah, penjelasannya, karena ada yang mengatur.

Tapi apa itu yang disebut tidak masuk akal? Sebenarnya kebanyakan yang disebut begitu adalah sesuatu yang di luar wawasan dia saja. Manusia melihat banyak kejadian, lalu menyimpulkan pola tentang kejadian-kejadian itu. Tapi selalu saja ada kejadian yang berbeda dari pola umum itu. Itu disebut penyimpangan. Sering pula disebut tak masuk akal tadi. Nah, hal-hal semacam itu disebut tak masuk akal. Di situ biasanya danggap ada yang mengatur.

Hal-hal yang menyimpang itu biasanya menarik perhatian manusia, dianggap ajaib. Matahari terbit itu biasa. Gerhana matahari, itu luar biasa. Karena itu manusia menciptakan mitos-mitos tentang kejadian itu, juga menciptakan ritual-ritual ibadah terkait peristiwa itu. Padahal matahari terbit dan gerhana matahari terjadi mengikuti suatu pola yang sama, mengikuti hukum gravitasi.

Orang menikah karena ada interaksi. Interaksi ini ditentukan oleh mobilitas manusia. Mobilitas itu ditentukan oleh teknologi. Dulu orang menikah dengan orang yang sekampung dengan dia. Orang di kampung yang terisolir, tidak mungkin menikah dengan orang kampung lain.

Saat ada interaksi dengan kampung lain, orang bisa menikah dengan orang kampung lain. Maka jangkauan pernikahan makin luas. Di kota pergaulan manusia jadi lebih luas, pola-pola pertemuan jadi jauh lebih luas. Kini, manusia bisa terhubung dan berkomunikasi tanpa harus bertemu. Kini 2 orang dari tempat berjauhan bisa memutuskan untuk menikah tanpa bertemu terlebih dahulu. Seabad yang lalu hal itu mustahil terjadi.

Pernikahan itu mirip dengan makanan. Zaman dulu orang Minang hanya tahu masakan Minang. Mereka tentu tak mengenal spageti. Sebaliknya, orang Aljazair tak mengenal rendang. Kini orang Minang tetap makan rendang, tapi cukup banyak dari mereka yang suka spageti.

Adakah yang mengatur siapa makan apa? Tidak. Demikian pula soal siapa kawin dengan siapa. Itu hanyalah produk pilihan yang dibuat manusia saat merespon situasi yang ia hadapi.

Seorang pemuda melihat seorang gadis dalam sebuah perjalanan di kereta. Ia menyukai gadis itu. Itu adalah situasi biasa yang terjadi dalam setiap detik. Apa yang membuat keduanya bisa menikah? Kalau pemuda itu berinisiatif mendekat, mengajak kenalan. Itu pun tergantung tanggapan dari si gadis. Kalau ia menganggap itu gangguan, cerita tidak akan berlanjut.

Yang terjadi hanyalah hal-hal biasa saja. Semua bisa dijelaskan. Hanya saja lebih banyak orang yang tidak mau berpikir untuk mencari penjelasan logis. Lebih banyak orang yang nyaman dengan rumusan yang dibuat orang di masa lalu. Ringkas, tak menghabiskan energi pikir. Pragmatis.

Doesn’t it sound familiar?

Bagikan