Group Hero

Puisi

207.066 anggota

Jika Anda seorang penyair dan Anda bahkan tidak mengetahuinya

Bagikan grup

🌅 "Senja yang Datang dan Pergi"

Di ufuk langit ia berpendar emas,
Membawa damai di sela duskara,
Warnanya lembut, membelai rasa,
Hadir memanjakan mata yang lelah.......

Namun ia know, waktunya kan berlalu,
Tak tinggal lama, tak memaksa bertahan,
Seperti janji yang tak pernah ingkar:
Pergi saat tiba gilirannya.......

Lalu di hari lain, tanpa dipanggil,
Tanpa diminta, tanpa diundang,
Ia kembali lagi dengan pesona yang sama,
Menebar cahaya, menghapus kelam......

Begitulah ia mengajari kita:
Hidup ini pun datang dan pergi,
Kesenangan, keindahan, dan harapan,
Tak selamanya menetap abadi.......

Namun seperti senja yang setia pulang,
Kebaikan pun takkan pernah hilang,
Ia kembali memberi, tanpa pamrih,
Menemani langkah, mencerahkan hati........
Jadilah seperti senja yang mulia.....
Hadir membawa manfaat bagi semesta,
Pergi dengan indah, meninggalkan jejak,
Kembali membawa berkah, tanpa harus dipinta.......

"Moonlight"💙🖤🌻

media
media
media
media
+3
2 Suka
Bagikan

Jika cinta punya kaki, ia tak akan diam di dada, ia akan berjalan pelan menyusuri rindu yang tak sempat terucap...

Bagikan

Catatan_Gabut_di_antara_lampu_kota
Selasa 9 juni2026 Bandung 22:31

Pada labirin fikiran penuh sesak semesta dan impian, telinga dan mata tertuju pada riuh gemuruh suara kendaraan, wanita yang berjalan dengan pakaian setengah telanjang atau tua renta yang bingung mencari seuap nasi untuk makan, pada keringnya tenggorokan, para pengamen yang pulang membawa rencehan. Setelah menegak pil tramadol untuk menghilangkan rasa lelah hingga malu di jalanan. Apakah dunia ini tempat di mana setiap orang hanya menjadi wayang, setiap orang menjadi tokoh utama di kehidupannya, apakah setiap orang adalah budak dari kaum yang lainnya, apakah paradoks paradoks itu masih terbukti kebenarannya.

Lantas apa yang di tuju?, pada ribuan naskah layar cahaya, tiga puluh detik potongan Vidio, rasa kantuk pada setiap podcast busuk, influencer munafik yang meneriakkan open mind terhadap para pempuan untuk memilih pasangan kuat finansial, sedangkan mereka mencari subcribe endorse untuk penghasilan. Nyeri itu terlihat di sekujur tubuh lelaki muda yang bertarung di tengah malam sebagai driver motor ojek online tuntutan istri setinggi langit.

Pada kehidupan di negri tepung terigu, ketika standar hidup begitu tinggi, emas tinggi dan modal hanya cukup untuk menggoreng tapioka dan terigu. Apakah ini salah langkah?, Tidak. Kita hanya jadi pasar suatu produk yang namanya kemajuan.

media
1 Suka
Bagikan

MAHMUD KU SAYANG

Mahmud,
yang kusayang, yang kupuja,
namun tak pernah bisa kupeluk dalam satu ranjang.

Mahmud,
Martin Martinez Daniel Nur Baqhi—
nama yang kautanggalkan demi menjadi Mamah Muda.
Gagal menjadi bintara,
kau berlari menuju persimpangan lampu merah,
menjadi tubuh yang selalu dipertanyakan dunia.

Kulit gelap kaulumuri bedak setebal aspal,
rambut panjang menjuntai menutupi luka-luka lama.
Bokong busa, dada yang tumbuh dari pil-pil murahan,
sepatu hak tinggi menjadikan langkahmu
seolah pramugari yang kehilangan langit.

Mahmud,
katamu kasih Tuhan bersembunyi
di balik kaca mobil hitam;
pada lelaki-lelaki setengah mabuk
yang lupa pulang kepada istrinya,
yang tak pernah tahu
bahwa di balik lipstik itu
masih tersimpan seorang lelaki.

Mahmud,
katamu semakin manja suara mendesah,
semakin deras pula uang mengalir,
meski yang datang hanya usia senja.
Dengan sebatang rokok murahan
kau berdiri menantang subuh,
entah menantang takdir
atau pengeras suara masjid yang memanggil pulang.

Dengan sebatang rokok yang sama,
kau silangkan kaki kurusmu,
memamerkan tubuh yang kaupahat dari lapar,
meski lambungmu sering memberontak,
meski diare dan mag menagih harga
atas segala kepura-puraan.

Mahmud,
di matamu kusaksikan duka yang menetap.
Ketika cinta menolakmu sebagai lelaki,
dan dunia menolakmu sebagai perempuan.
Di bawah tulisan-tulisan kasar,

" Anjng dan Wria di larang masuk !"

di bawah tatapan yang mengusir,
kau tetap berjalan,
tabah menanggung hidup yang tak pernah ramah.

Katamu:
"Menjadi lelaki adalah hukuman Tuhan."

Lalu kau berkata lagi:
"Menjadi perempuan lebih berharga,
sebab segala yang melekat pada tubuhnya
selalu punya harga untuk dijual."

Maka aku bertanya dalam diam:
Jika demikian,
mengapa begitu banyak perempuan
masih merasa dirinya lebih rendah
daripada sampah yang diinjak orang-orang?

Mahmud,
yang kusayang dan kukenang,
kini tubuhmu mengapung di sungai,
dibawa arus yang tak pernah bertanya
siapa dirimu sebenarnya.

Dan untuk pertama kalinya,
air menerima jasadmu
tanpa menghakimi.

Mustofa Hakim
23 Agustus 2023
Bandung

media
2 Suka
1
Bagikan
Anonim

1 hari yang lalu

Judul : Menunggu yang Belum Tiba

Aku mencari jodoh
Di luar rumah
Di dalam aplikasi
Di mana-mana
Namun aku masih sendiri
Tahun demi tahun berlalu
Musim demi musim berganti
Waktu terus berjalan
Usia terus bertambah
Sedangkan aku masih menunggu
Pria dan perempuan berbeda
Pria masih dianggap layak
Meski usia semakin tua
Sedangkan perempuan
Menghitung waktu dengan cemas
Perempuan tidak bisa menunggu selamanya
Ada usia yang terus berjalan
Ada waktu yang tak mau berhenti
Ada hari-hari yang terus berlalu
Aku mencari
Aku menunggu
Aku berharap
Namun sampai hari ini
Jodoh belum juga datang
Jodoh,
Kapankah kau datang?
Aku lelah menunggu
Sebab waktu terus berjalan
Dan aku tak bisa menunggu lagi

1 Suka
1
Bagikan

PADAMU JUA

Kepada hari-hari yang semakin rindu. Aku menoleh meski hanya mendapat sendu. Kepada aliran hati yang mungkin telah lama mati. Aku masih hanyut terbawa aliran denyut. Hingga rasa ingin kembali datang walau perih selalu menopang. Masih adakah argumen tentang cinta?, Atau lagu lama yang masih menggema?, Entahlah aku dan bayang bayang ini selalu berkata
'Sayang, aku hanya ingin kembali pulang,'

Masih adakah argumen tentang cinta?
Atau lagu lama yang masih menggema?
Sedang aku memilih mengasingkan diri dari pertarungan yang tak sanggup di hadapi.
Mengukir kisah dari guratan kepala tentang janji yang tak pernah terpenuhi.
Di balik kemelut awan selamat pagi.
Dari gerutu ibu yang menuntut untuk cepat mengikat janji.
Di hari na'as kau dan aku hanya sepasang pensil dan penghapus, di hadapan kertas-kertas mimpi yang bertulis
"lebih baik menutup hati".

Aku lukis sebuah guratan rupa ilusi,
Yang mana akulah pemiliknya sedang jasadnya milik orang.

selamat tinggal...

Mustofa H
2026
Bandung

media
7 Suka
1
Bagikan

dicari yg siap nikah .. gak muluk muluk yang mau ajh
saya tidak mencari yang sempurna karena saya juga masih banyal kekurangan

nafkah insya allah lahir batin
insya allah bahagia
insya allah bisa memenuhi kebutuhan hidup
insya allah amanah

1 Suka
Bagikan

Putri

Alkisah sang putri bingung terkatung katung di bawah bulan tembaga yang di tusuk ranting. Sang pujaan hati tidak jua menguasai bahasa ibunya, sedang gandum tidak seberat nasi. Aku akan datang melamar mu dengan pesan yang di bawa cahaya pada dasar laut antar samudra. Kau akan kubawa ke negri ku, di sana ada keju dan ada tarian Eropa, ada kalkun dan daging yang di pagang dengan merica. Lupakan saja opor itu, lupakan rendang, lupakan kari atau makanan yang berlemak kelapa. Sang putri semakin bingung, apa mungkin tanah mereka humus seperti di kampung ku. Sedang afatis dan opurtunis begitu melekat di komplek perumahan nya, ahk ini kan soal agama ucap putri yang sedang bingung. Ahk aku sudah bosan dengan kata aku cinta padamu, mungkin dengan kata i Love you lebih bermakna. Tunggu, aku bosan dengan layar aku bosan dengan drama tapi yang aku tau pesawat terbang memang di gerakkan oleh cinta. Di hari hari naas itu, sang putri semakin bingung, mereka berbisik di hari pernikahan, apa artinya so sweet, apa artinya good morning dan apa artinya memasak di luar negri yang sama saja memasak di negri sendiri. Ahk ketampanan memang tujuan sebab di negri sendiri blansteran sudah menjadi artis. Oh iya aku lupa, ini musim dingin bukan musim i phone.

Di malam itu sang putri ingin pulang kampung.

Catatan Gabut
6 Juni 2026
Bandung

media
7 Suka
7
Bagikan

Mau minta saran buku yang harus dibaca minimal sekali seumur hidup apa ya?

1 Suka
1
Bagikan

KARUNG MERICA HEINRICH HEINE DAN JANGKAR TAMBORA

Oleh : Afrizal Malna

kau pakai tubuhku untuk berdiri di sini, tubuh dari bengkel ingatan.
sekarang, 200 tahun berputar ke belakang, pamanku, saudagar “si
karung merica” itu, berdiri di balkon villanya, di pinggir sungai elbe
belum malam. berulang kali, apa itu? jaring laba-laba di antara arah mata angin:
layar kapal-kapal barang, kibaran bendera di bawah bau
batu bara; melempar tambang ke depan dan ke belakang, menjerat
pasar. melintas seperti pisau lipat dalam teropong, berulang kali. kau sedang menimbang beratnya waktu? lada,merica, kopi, tembakau
dan impian dari tenggara. bau rempah-rempah yang tidak bisa
dibekukan ke dalam robekan kata. rasa heran pada sambal dan kulit
duren. berbelok, sebuah meriam seperti korek api dalam selimut,
menatap garis kaki langit antara awan tebal dan kabut bergaram:

“dusseldorf, hamburg, berlin, paris, batavia … puisi di bawah bising bengkel bahasa.”
laut pasang – kesunyian jadi buas dal liar – masuk ke perut sungai.
air mengepung kota. sungai elbe mencakar tubuhku, melewati batas
bernapas. bias cahaya pada pantulan air, pantat kapal, reruntuhan
ekonomi dan ringkik kuda napoleon. “si karung merica” itu tenggelam, tetapi terus mengintai dengan teropongnya. berulang kali:
lompatan air pada dinding sungai, kayuhan kaki-kaki bebek
meluncur menembus terbang: cahaya matahari seperti tebaran emas
tak bisa digenggam. dan air surut. sebuah bungkusan hitam terapung-
apung di sungai. terus memuntahkan asap dari tambora, 1815,
setelah 200 tahun (sekarang yang berulang). sebuah gunung dari
tenggara – melompat – menghentikan perang. jangkar dari material
vulkanik yang mengubah waktu, dijatuhkan di wina. pintu-pintu asia
tenggara terbuka dan lepas.
“si karung merica” kembali muncul di permukaan sungai. berulang
kali, apakah ini? sebelum masakini digital. kapal-kapal konteiner,
pesawat udara dan kamar chatting. yang bebek teruslah bebek, yang
sungai teruslah sungai. setelah 200 tahun jangkar diturunkan, sebuah
teropong gila antara yang melihat dan dilihat. berdiri, seperti bengkel
ingatan setelah lupa. di pinggir sungai elbe, setelah log out.

media
7 Suka
Bagikan