Group Hero

Puisi

230.139 anggota

Jika Anda seorang penyair dan Anda bahkan tidak mengetahuinya

Bagikan grup
kevin

@Apa7634519

11 menit yang lalu

saya ingin Tante Tante

Bagikan
NO Comment

@May_8

sekitar 21 jam yang lalu

𝑲𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑲𝒂𝒎𝒖,𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑲𝒖𝒃𝒂𝒄𝒂 𝑫𝒊𝒂𝒎-𝑫𝒊𝒂𝒎
𝑻𝒐 𝒀𝒐𝒖,𝑾𝒉𝒐𝒎 𝑰 𝑹𝒆𝒂𝒅 𝒊𝒏 𝑺𝒊𝒍𝒆𝒏𝒄𝒆
𝑩𝒚.🇨‌‌🇭‌‌🇮‌‌🇰‌‌🇦‌

𝑨𝒅𝒂 𝒔𝒂𝒕𝒖 𝒏𝒂𝒎𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂 𝒌𝒖𝒔𝒊𝒎𝒑𝒂𝒏,𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒃𝒊𝒐,𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒊 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒉 𝒍𝒂𝒎𝒖𝒏𝒂𝒏.
𝑻𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒊𝒔 𝒂 𝒏𝒂𝒎𝒆 𝑰 𝒑𝒖𝒓𝒑𝒐𝒔𝒆𝒍𝒚 𝒌𝒆𝒆𝒑,𝒏𝒐𝒕 𝒊𝒏 𝒎𝒚 𝒃𝒊𝒐,𝒃𝒖𝒕 𝒊𝒏 𝒂 𝒉𝒆𝒂𝒅 𝒇𝒖𝒍𝒍 𝒐𝒇 𝒅𝒂𝒚𝒅𝒓𝒆𝒂𝒎𝒔.

𝑲𝒂𝒎𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒍𝒆𝒘𝒂𝒕 𝒅𝒊 𝑻𝑰𝑴𝑬𝑳𝑰𝑵𝑬 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒆𝒏𝒕𝒊,𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒎𝒂𝒖 𝒏𝒈𝒆-𝒍𝒊𝒌𝒆,𝒋𝒂𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒑𝒂𝒌𝒂𝒊 𝒎𝒊𝒌𝒊𝒓 𝒅𝒖𝒂 𝒌𝒂𝒍𝒊.
𝒀𝒐𝒖'𝒓𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒐𝒏𝒆 𝒘𝒉𝒐 𝒎𝒂𝒌𝒆𝒔 𝒎𝒆 𝒑𝒂𝒖𝒔𝒆 𝒘𝒉𝒆𝒏𝒆𝒗𝒆𝒓 𝒚𝒐𝒖 𝒑𝒂𝒔𝒔 𝒃𝒚 𝒎𝒚 𝑻𝑰𝑴𝑬𝑳𝑰𝑵𝑬,𝒃𝒖𝒕 𝒘𝒉𝒆𝒏 𝒊𝒕 𝒄𝒐𝒎𝒆𝒔 𝒕𝒐 𝒍𝒆𝒂𝒗𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒍𝒊𝒌𝒆,𝒎𝒚 𝒇𝒊𝒏𝒈𝒆𝒓 𝒉𝒆𝒔𝒊𝒕𝒂𝒕𝒆𝒔 𝒕𝒘𝒊𝒄𝒆.

𝑨𝒌𝒖 𝒔𝒖𝒌𝒂 𝒄𝒂𝒓𝒂𝒎𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒂𝒘𝒂 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒓𝒂 𝒅𝒊 𝒃𝒂𝒍𝒊𝒌 𝒍𝒂𝒚𝒂𝒓,𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒄𝒂𝒓𝒂𝒎𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒊𝒌𝒂𝒑 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒂𝒔𝒂𝒓𝒂𝒏.
𝑰 𝒍𝒐𝒗𝒆 𝒉𝒐𝒘 𝒚𝒐𝒖 𝒍𝒂𝒖𝒈𝒉 𝒔𝒊𝒍𝒆𝒏𝒕𝒍𝒚 𝒃𝒆𝒉𝒊𝒏𝒅 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒄𝒓𝒆𝒆𝒏,𝒐𝒓 𝒕𝒉𝒆 𝒘𝒂𝒚 𝒚𝒐𝒖 𝒄𝒂𝒓𝒓𝒚 𝒚𝒐𝒖𝒓𝒔𝒆𝒍𝒇 𝒕𝒉𝒂𝒕 𝒍𝒆𝒂𝒗𝒆𝒔 𝒎𝒆 𝒄𝒖𝒓𝒊𝒐𝒖𝒔.

𝑲𝒂𝒎𝒖 𝒊𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒍𝒂𝒈𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒑𝒊𝒔-𝒕𝒊𝒑𝒊𝒔 𝒌𝒖𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓, 𝒂𝒔𝒊𝒏𝒈 𝒅𝒊 𝒕𝒆𝒍𝒊𝒏𝒈𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈,𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒄𝒂𝒏𝒅𝒖 𝒃𝒖𝒂𝒕𝒌𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊𝒂𝒏.
𝒀𝒐𝒖 𝒂𝒓𝒆 𝒍𝒊𝒌𝒆 𝒂 𝒔𝒐𝒏𝒈 𝒔𝒐𝒇𝒕𝒍𝒚 𝒑𝒍𝒂𝒚𝒊𝒏𝒈 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒆 𝒃𝒂𝒄𝒌𝒈𝒓𝒐𝒖𝒏𝒅,𝒇𝒐𝒓𝒆𝒊𝒈𝒏 𝒕𝒐 𝒐𝒕𝒉𝒆𝒓𝒔' 𝒆𝒂𝒓𝒔,𝒃𝒖𝒕 𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒅𝒊𝒄𝒕𝒊𝒐𝒏 𝒕𝒐 𝒎𝒆 𝒂𝒍𝒐𝒏𝒆.

𝑴𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈,𝒔𝒆𝒋𝒂𝒖𝒉 𝒊𝒏𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒄𝒖𝒎𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒕𝒂𝒕𝒂𝒑 𝒎𝒂𝒚𝒂,𝒔𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒏𝒂𝒎𝒂 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒓𝒂𝒔𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒖𝒌𝒂𝒓 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂.
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒕𝒕𝒆𝒅𝒍𝒚,𝒔𝒐 𝒇𝒂𝒓 𝒘𝒆 𝒂𝒓𝒆 𝒋𝒖𝒔𝒕 𝒃𝒐𝒖𝒏𝒅𝒆𝒅 𝒃𝒚 𝒗𝒊𝒓𝒕𝒖𝒂𝒍 𝒈𝒍𝒂𝒏𝒄𝒆𝒔,𝒌𝒏𝒐𝒘𝒊𝒏𝒈 𝒆𝒂𝒄𝒉 𝒐𝒕𝒉𝒆𝒓'𝒔 𝒏𝒂𝒎𝒆𝒔 𝒘𝒊𝒕𝒉𝒐𝒖𝒕 𝒌𝒏𝒐𝒘𝒊𝒏𝒈 𝒉𝒐𝒘 𝒊𝒕 𝒇𝒆𝒆𝒍𝒔 𝒕𝒐 𝒔𝒉𝒂𝒓𝒆 𝒔𝒕𝒐𝒓𝒊𝒆𝒔.

𝑻𝒂𝒑𝒊 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒔𝒐𝒔𝒐𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒌𝒂𝒈𝒖𝒎𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒉𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈,𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒔𝒖𝒌𝒔𝒆𝒔 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂𝒌𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒐𝒏𝒐𝒕𝒐𝒏 𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒈𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈.
𝑩𝒖𝒕 𝒇𝒐𝒓 𝒔𝒐𝒎𝒆𝒐𝒏𝒆 𝒂𝒅𝒎𝒊𝒓𝒆𝒅 𝒊𝒏 𝒔𝒊𝒍𝒆𝒏𝒄𝒆,𝒚𝒐𝒖'𝒗𝒆 𝒔𝒖𝒄𝒄𝒆𝒔𝒔𝒇𝒖𝒍𝒍𝒚 𝒎𝒂𝒅𝒆 𝒎𝒚 𝒎𝒐𝒏𝒐𝒕𝒐𝒏𝒐𝒖𝒔 𝒘𝒐𝒓𝒍𝒅 𝒔𝒑𝒊𝒏 𝒂 𝒍𝒊𝒕𝒕𝒍𝒆.

𝑱𝒂𝒅𝒊,𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 ....
𝑺𝒐,𝒕𝒐 𝒕𝒉𝒆 𝒐𝒏𝒆 𝒘𝒉𝒐 𝒇𝒆𝒆𝒍𝒔 𝒏𝒐𝒕𝒊𝒄𝒆𝒅 ....

𝑬𝒏𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒖𝒔𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒏𝒚𝒖𝒎-𝒔𝒆𝒏𝒚𝒖𝒎 𝒈𝒊𝒕𝒖 𝒅𝒆𝒄𝒉,𝒃𝒂𝒄𝒂𝒏𝒚𝒂. 😉
𝑵𝒐 𝒏𝒆𝒆𝒅 𝒕𝒐 𝒔𝒎𝒊𝒍𝒆 𝒍𝒊𝒌𝒆 𝒕𝒉𝒂𝒕 𝒘𝒉𝒊𝒍𝒆 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 𝒕𝒉𝒊𝒔. 😉

𝑯𝒂𝒚𝒐 𝒍𝒐𝒉,𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒈𝒆'𝒆𝒓𝒂𝒏 𝒚𝒂! 𝑰𝒏𝒊 𝒄𝒖𝒎𝒂 𝒄𝒐𝒓𝒆𝒕𝒂𝒏 𝒊𝒔𝒆𝒏𝒈 𝒔𝒐𝒓𝒆-𝒔𝒐𝒓𝒆 .... 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒎𝒖? 𝑷𝒊𝒌𝒊𝒓 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒅𝒆𝒉! 😜🤣
𝑼𝒉-𝒐𝒉,𝒅𝒐𝒏'𝒕 𝒇𝒍𝒂𝒕𝒕𝒆𝒓 𝒚𝒐𝒖𝒓𝒔𝒆𝒍𝒇 𝒋𝒖𝒔𝒕 𝒚𝒆𝒕! 𝑻𝒉𝒊𝒔 𝒊𝒔 𝒋𝒖𝒔𝒕 𝒂 𝒓𝒂𝒏𝒅𝒐𝒎 𝒆𝒗𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈 𝒅𝒐𝒐𝒅𝒍𝒆 .... 𝒐𝒓 𝒊𝒔 𝒊𝒕 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒍𝒚 𝒇𝒐𝒓 𝒚𝒐𝒖? 𝑭𝒊𝒈𝒖𝒓𝒆 𝒊𝒕 𝒐𝒖𝒕 𝒚𝒐𝒖𝒓𝒔𝒆𝒍𝒇! 😜🤣

1 Suka
Bagikan
Ceka

@Rambanks

1 hari yang lalu

... mimpi masih putih bagiku
Mendaki terjal tubir batinku
Dan ku mohon usaikanlah atau sempurnakan saja...

cK

Bagikan
Ceka

@Rambanks

5 hari yang lalu

.... Dimana kini hati dan jiwamu bersandar
Tidak kau tau,! Tingkap batinku terberai lantak diriuhan kabut berjuta tanya???...

cK

1 Suka
Bagikan
Ceka

@Rambanks

6 hari yang lalu

..Menyelami makna rindu
Ketika ku dibuai sepi
Ku terbawa arus rasa
Rindu yg tak bermuara...

cK

1 Suka
10
Bagikan
Mustofa Hakim

@mustofa61288513

6 hari yang lalu

AKU MENDAYUNG TAKDIR

Aku mendayung sebatang sampan
di hilir ikan-ikan Musa menuju sunyi Khidir.
Malam yang celaka mengurung akal,
membuat setiap jalan pulang menjelma labirin tafsir.

Sebatang anak korek kulemparkan
ke rongga ruang yang berbau resah.
Api sekecil doa itu
membakar kesunyian hingga langit kehilangan arah.

Semakin dalam aku tenggelam,
tujuh bintang gugur satu per satu
ke dasar takdir yang tak pernah selesai dituliskan.

Lendir waktu bergesekan dengan lidah api,
lalu takbir menjulang
membelah pekat yang mengendap pada dada.

Desir...

Jantungku pecah,
bukan menjadi darah,
melainkan sejuta butir pasir
yang diterbangkan angin menuju padang kesendirian.


Pada hari-hari yang dibasuh romantika,
setangkai bunga mengajari kabut
cara menjelma seroja.

Sayang...

Aku adalah langit yang mengantarmu kepada fajar,
namun setiap malam
aku rela menghilang
agar kau dapat berbincang dengan sajak,
berpelukan dengan prosa,
dan meminum sunyi dari cangkir bulan.

Andai cinta diizinkan memilih bentuk,
aku tak ingin menjadi pahlawan,
tak ingin menjadi pujangga,
bahkan tak ingin menjadi nama yang diagungkan sejarah.

Aku ingin menjadi
sepatu yang menghafal seluruh langkahmu.

Menjadi pakaian
yang memeluk tubuhmu tanpa pernah mengeluh.

Menjadi pengikat yang menjaga rahasia dadamu.

Menjadi sandal
yang setia menemani jalan-jalan paling jauh.

Menjadi kain yang paling dekat dengan tubuhmu,
namun tak pernah meminta pujian.

Menjadi rok
yang menari bersama angin.

Menjadi lipstik
yang mencuri warna dari bibirmu.

Menjadi bedak
yang diam-diam menyentuh wajahmu
lebih dahulu daripada cahaya pagi.

Tetapi...

Lebih daripada segala benda yang dapat dikenakan itu,
aku ingin menjelma ruang
yang selalu kau pulangi
ketika dunia menolakmu.

Aku ingin menjadi alasan
mengapa rindu memilih tinggal.

Menjadi nama
yang diam-diam kau sebut dalam setiap doa.

Menjadi rumah
yang bahkan air matamu pun
tak pernah ingin meninggalkannya.

— Mustofa H
2024

media
4 Suka
Bagikan
Rahmat

@KopiAa

6 hari yang lalu

Cinta yang paling tulus tidak selalu hadir dalam pelukan, kata-kata manis, atau janji untuk selalu bersama. Ada cinta yang memilih tinggal dalam diam, tetapi tak pernah absen menyebut namamu di setiap doa. Sebab ketika seseorang benar-benar mencintai, yang paling ia inginkan bukan sekadar memilikimu, melainkan memastikan Tuhan selalu menjaga langkahmu. Ia berharap kamu dipenuhi kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan, bahkan ketika ia tidak lagi mampu berada di sisimu.

Doa adalah bahasa cinta yang paling jujur. Ia tidak meminta balasan, tidak mencari pengakuan, dan tidak memaksa takdir berjalan sesuai keinginan. Mendoakan seseorang berarti belajar mencintai tanpa harus menguasai, berharap tanpa memaksa, dan mengikhlaskan tanpa berhenti peduli. Sebab cinta yang dewasa tidak selalu berkata, “Semoga kamu menjadi milikku,” tetapi lebih sering berbisik, “Ya Allah, jagalah dia di mana pun ia berada.”

Jika suatu hari kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan hanya mencintainya ketika ia dekat. Cintailah ia juga dalam doamu ketika jarak memisahkan, ketika waktu mengubah banyak hal, atau ketika hidup membawanya ke jalan yang berbeda. Karena mungkin kamu tidak selalu bisa melindunginya dengan tanganmu, tetapi kamu selalu bisa menitipkannya kepada Tuhan yang tidak pernah lalai menjaga hamba-Nya. Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling suci: ketika keselamatan dan kebahagiaannya tetap menjadi doa, bahkan tanpa harus menjadi milikmu.

KopiAa

1 Suka
Bagikan
Rahmat

@KopiAa

7 hari yang lalu

"Halaman terakhir yg tak pernah ingin ku tulis"

Ada saatnya cinta tidak lagi meminta untuk dipertahankan, melainkan dihormati dengan cara dilepaskan. Bukan karena perasaannya telah mati, melainkan karena terus memeluknya hanya akan membuat luka belajar bernapas di dalam dada.

Maka hari ini, dengan tangan yang masih gemetar oleh sisa-sisa kenangan, kuputuskan menutup kisah kita.

Bukan dengan amarah. Bukan pula dengan dendam. Aku menutupnya sebagaimana senja menutup matahari: perlahan, khidmat, dan tanpa gaduh. Sebab aku percaya, segala yang pernah indah tak pantas diakhiri oleh kebencian.

Aku akan membiarkan namamu tetap tinggal sebagai musim yang pernah mengajarkan bunga bermekaran, meski pada akhirnya gugur juga. Aku tak ingin menghapus jejakmu dari ingatan. Biarlah ia menjadi prasasti yang mengingatkanku bahwa pernah ada seseorang yang membuat waktu terasa begitu singkat, sekaligus begitu panjang ketika kehilangan datang mengetuk.

Barangkali kita memang hanya dipertemukan untuk saling mengubah, bukan saling memiliki. Kau mengajariku bagaimana mencintai dengan utuh, lalu mengajarkanku pula bahwa ketulusan tidak selalu berakhir pada kebersamaan.

Kini aku mengerti, tidak semua doa dijawab dengan "iya". Ada yang dijawab dengan "cukup sampai di sini", agar kita belajar bahwa takdir bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang menerima.

Malam-malam yang dahulu penuh percakapan akan kembali sunyi. Jalan-jalan yang pernah kita lewati akan tetap ada, hanya saja langkah kita tak lagi menuju arah yang sama. Dan lagu-lagu yang dulu terasa seperti rumah, perlahan akan berubah menjadi gema yang hanya sesekali menyapa ketika hujan turun.

Jangan khawatir. Aku tidak akan mencarimu dalam wajah orang lain. Sebab tak ada yang lebih menyakitkan daripada memaksa seseorang menjadi bayangan dari seseorang yang telah pergi.

Hari ini aku memilih berdamai.

Kuberi kebebasan pada hatiku untuk berhenti menunggu. Kuberi izin pada air mata untuk berhenti menyembunyikan kepedihan. Dan kuberi restu pada namamu agar berbahagia, meski kebahagiaan itu bukan lagi bersamaku.

Jika suatu hari nanti kita dipertemukan kembali oleh semesta, semoga kita telah menjadi dua orang asing yang saling tersenyum tanpa menyimpan sesal. Sebab cinta yang benar-benar dewasa bukanlah cinta yang selalu kembali, melainkan cinta yang mampu mengikhlaskan tanpa kehilangan hormat.

Maka, pada halaman terakhir yang kutulis dengan tinta paling jujur, kububuhkan satu kalimat yang tak pernah ingin kutulis, tetapi harus kuterima:

"Ku tutup kisah kita. Bukan karena aku berhenti mencintaimu, melainkan karena aku akhirnya belajar mencintai diriku sendiri dengan tidak lagi memaksamu untuk tinggal."

KopiAa

3 Suka
Bagikan
Rahmat

@KopiAa

7 hari yang lalu

Jika rindu ini terhitung tafsiran,
maka biarlah aku yang menjadi kitabnya—
dibaca oleh sepi,
dihakimi oleh waktu,
namun tak pernah benar-benar ingin ditutup.

Sebab sejak awal kita saling menemukan
di lorong yang tak seharusnya dilewati,
aku telah mengerti—
kita bukan kisah yang bisa disuarakan keras-keras,
melainkan rahasia
yang harus dipeluk dengan jutaan sabar.

Kita adalah rahasia
yang tumbuh di sela-sela larangan,
seperti lumut yang diam-diam merayapi batu—
tak diundang, tak diharapkan,
namun tak juga bisa dicegah.

Waktu tak pernah benar-benar berpihak,
ia hanya memberi kita celah-celah sempit
untuk saling menjenguk dalam diam,
sebelum kembali mengunci kita pada kehidupan yang berbeda arah.

Aku menghafal caramu hadir
tanpa suara,
mengetuk tanpa benar-benar mengetuk,
membuat hatiku terbuka
bahkan saat aku bersikeras menguncinya rapat-rapat.

Dan kau—
adalah satu-satunya pulang
yang tak pernah tercatat dalam peta hidupku,
namun selalu kutuju
dengan keyakinan yang nyaris mustahil dijelaskan.

Kita ini ganjil,
dua insan yang saling memilih
di tengah ketidakbolehan,
meneguk rindu seperti dosa yang manis,
lalu menelannya bulat-bulat
tanpa pernah benar-benar ingin sembuh.

Namun bagaimana mungkin aku melepaskanmu,
jika bahkan kehilanganmu saja tak pernah berhasil kupelajari dengan utuh?

Kita menjadi lihai dalam luka,
pandai merawat retak tanpa bersuara, dan terbiasa menukar peluk
dengan jeda yang terlalu panjang.

Ironisnya,
hubungan yang tak diizinkan ini
justru menjelma paling jujur—
tanpa topeng, tanpa sandiwara,
hanya dua hati yang sama-sama tahu
bahwa mereka sedang tersesat…
namun enggan pulang.

Jika ini salah,
maka kita adalah kesalahan
yang memilih bertahan lebih lama daripada kebenaran yang mudah menyerah.

Maka tinggallah…
meski hanya sebagai jeda
di antara riuh hidupku,
meski hanya sebagai nama
yang tak bisa kusebut terang-terangan.

Tinggallah—
sebagai denyut yang diam-diam kupelihara,
sebagai luka yang justru kurawat,
sebagai rindu yang tak pernah benar-benar ingin usai.

Tinggallah..
Tinggallah di waktu yang tak ada batasnya.

Bagikan
Rahmat

@KopiAa

7 hari yang lalu

Aku sudah tahu,
mencintaimu melukai relung jiwaku.
Namun entah mengapa,
hatiku masih memilih namamu dalam setiap doa.

Padahal aku punya pilihan,
melangkah pergi dan mengobati luka,
menghapus jejak yang tertinggal,
lalu memulai kisah yang baru.

Tetapi,
aku memilih bertahan bukan karena manusia,
melainkan karena aku percaya
setiap takdir Allah menyimpan hikmah yang belum terbaca.

Jika cintaku harus menjadi ujian,
biarlah ia mendewasakanku dalam sabar.
Jika perihku harus menjadi jalan,
biarlah ia mendekatkanku kepada Rabb semesta alam.

Aku tak meminta hatimu untukku,
aku hanya memohon kepada Allah,
jika dirimu baik untuk dunia dan akhiratku,
dekatkanlah dengan cara yang halal dan penuh berkah.

Namun jika engkau bukan takdirku,
maka kuatkanlah langkahku untuk melepaskan,
sebab cinta yang paling indah
adalah cinta yang mengantarkan hamba kepada-Nya.

Dan hari ini,
meski aku tahu mencintaimu melukaiku,
aku belajar bahwa bertahan bukan selalu tentang memiliki,
kadang tentang ikhlas menerima keputusan Allah Yang Maha Mengetahui.

KopiAa

1 Suka
Bagikan