Group Hero

Tinjau Profil Saya

83.254 anggota

Cek Profil! 🌟 Ini adalah zona bebas penilaian untuk memposting profil Anda dan biarkan komunitas anggota kami memberikan jempol atau memberikan saran yang bersahabat. Apakah Anda sedang mencari foto selfie yang sempurna atau sedang mencari sentuhan bio yang ajaib, kami siap membantu Anda. 🙏 Harap diingat untuk saling menghormati satu sama lain juga!

Bagikan grup

Mengapa Manusia Tidak Pernah Memilih yang Kurang?

Di antara sekian banyak hal yang dilakukan manusia setiap hari, ada satu kebiasaan yang begitu umum sehingga hampir tidak pernah dipertanyakan. Ketika dihadapkan pada beberapa pilihan, manusia cenderung memilih apa yang dianggap lebih baik. Ia memilih pekerjaan yang menawarkan prospek lebih menjanjikan, pasangan yang dianggap lebih ideal, pendidikan yang lebih berkualitas, atau lingkungan yang lebih mendukung kehidupannya. Bahkan ketika pilihan-pilihan itu sangat berbeda satu sama lain, terdapat pola yang tampak konsisten: manusia bergerak menuju sesuatu yang dinilai lebih bernilai daripada alternatif yang tersedia.

Fenomena ini tampak terlalu sederhana untuk dijadikan bahan refleksi filosofis. Namun justru kesederhanaannya menyimpan pertanyaan yang menarik. Mengapa manusia selalu bergerak ke arah yang dianggap lebih baik? Mengapa hampir tidak ada orang yang secara sadar memilih sesuatu karena ia lebih buruk?

Pilihan dan Penilaian Nilai

Setiap pilihan mengandung penilaian, meskipun penilaian itu sering berlangsung tanpa disadari. Ketika seseorang memilih pasangan, ia tidak sekadar memilih seorang individu. Ia sedang memilih seperangkat kualitas yang dianggap bernilai. Demikian pula ketika seseorang memilih pekerjaan. Yang dipilih bukan sekadar tempat bekerja, melainkan penghasilan, keamanan, status, peluang berkembang, atau berbagai hal lain yang dianggap membawa manfaat.

Karena itu, di balik setiap pilihan selalu tersembunyi suatu hierarki nilai. Manusia terus-menerus membandingkan berbagai kemungkinan dan menempatkan sebagian di atas yang lain. Pilihan menjadi semacam jendela yang memperlihatkan apa yang sebenarnya dianggap penting oleh seseorang.

Hal ini dapat dilihat dalam berbagai bidang kehidupan. Seorang mahasiswa yang memilih universitas tertentu melakukannya karena melihat nilai tertentu pada institusi tersebut. Seorang pebisnis memilih investasi tertentu karena menganggapnya lebih menguntungkan. Bahkan seseorang yang memilih hidup sederhana dibanding mengejar kekayaan tetap sedang memilih sesuatu yang dianggap lebih bernilai, misalnya ketenangan batin atau kebebasan dari tekanan sosial.

Dengan kata lain, manusia tidak pernah memilih secara acak. Pilihan selalu bergerak mengikuti persepsi tentang nilai.

Apakah Manusia Selalu Mencari yang Terbaik?

Pada titik ini muncul keberatan yang cukup kuat. Bukankah manusia sering membuat keputusan yang merugikan dirinya sendiri? Bukankah banyak orang terjebak dalam kebiasaan buruk, hubungan yang tidak sehat, atau pilihan hidup yang pada akhirnya membawa penderitaan?

Keberatan ini penting karena menunjukkan bahwa manusia tidak selalu berhasil mencapai yang terbaik. Namun kegagalan mencapai yang terbaik berbeda dengan tidak menginginkan yang terbaik. Banyak keputusan yang tampak buruk dari luar sebenarnya diambil karena pada saat itu pelakunya melihat sesuatu yang dianggap lebih bernilai daripada alternatif lain.

Seseorang yang menghabiskan seluruh uangnya untuk kesenangan sesaat tidak sedang memilih kerugian. Ia sedang memilih kenikmatan yang menurut penilaiannya lebih menarik daripada manfaat jangka panjang yang terasa jauh dan abstrak. Orang yang bertahan dalam hubungan yang buruk sering kali tidak mencintai penderitaan, melainkan melihat nilai lain yang lebih penting baginya, seperti rasa aman, keterikatan emosional, atau ketakutan terhadap kesendirian.

Persoalannya bukan bahwa manusia mencintai keburukan. Persoalannya adalah manusia dapat keliru menilai di mana letak kebaikan yang sebenarnya.

Logika yang Bekerja di Balik Hubungan Manusia

Fenomena ini tampak sangat jelas dalam persoalan pasangan hidup. Banyak perdebatan mengenai apa yang sebenarnya dicari laki-laki dan perempuan ketika memilih pasangan. Namun jika seluruh perbedaan preferensi disisihkan sejenak, pola dasarnya tetap sama: manusia cenderung memilih kombinasi kualitas yang dianggap lebih bernilai.

Misalnya, seseorang mungkin tertarik pada kecantikan, kecerdasan, kebaikan, kematangan emosional, atau stabilitas ekonomi. Apabila tersedia dua pilihan yang identik dalam segala hal, tetapi salah satunya memiliki kelebihan tambahan yang dianggap penting, kebanyakan orang akan memilih pilihan tersebut. Bukan karena manusia serakah, melainkan karena manusia secara alami tertarik pada peningkatan nilai.

Hal yang sama berlaku dalam pekerjaan. Jika dua perusahaan menawarkan gaji yang sama, tetapi salah satunya memberikan peluang karier yang lebih baik, reputasi yang lebih kuat, atau lingkungan kerja yang lebih sehat, banyak orang akan menganggapnya sebagai pilihan yang lebih rasional. Di sini kita melihat pola yang sama berulang dalam konteks yang berbeda.

Asumsi yang Jarang Disadari

Semakin jauh kita menelusuri fenomena ini, semakin jelas bahwa ia bertumpu pada asumsi tertentu tentang hakikat manusia. Seolah-olah manusia membawa keyakinan diam-diam bahwa hidup dapat menjadi lebih baik daripada keadaan sekarang. Tanpa asumsi tersebut, seluruh aktivitas memilih akan kehilangan maknanya.

Jika seseorang benar-benar percaya bahwa tidak ada perbedaan nilai antara pengetahuan dan kebodohan, antara keadilan dan ketidakadilan, antara kesehatan dan penyakit, maka sebagian besar keputusan hidup akan menjadi tidak relevan. Kenyataannya, manusia hampir selalu menganggap beberapa keadaan lebih layak diinginkan daripada keadaan lainnya.

Dari sinilah lahir gagasan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang memiliki kebutuhan, melainkan makhluk yang berorientasi pada penyempurnaan. Ia terus bergerak dari kondisi yang dianggap kurang menuju kondisi yang dianggap lebih baik. Seluruh kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya dibangun di atas asumsi tersebut.

Kesempurnaan sebagai Horizon

Dalam tradisi filsafat klasik, kecenderungan manusia untuk memilih yang lebih baik sering dipahami sebagai ekspresi dari orientasinya terhadap kesempurnaan. Kesempurnaan di sini bukan berarti keadaan tanpa cacat, melainkan tingkat keberadaan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Pengetahuan dianggap lebih sempurna daripada ketidaktahuan. Kesehatan lebih sempurna daripada penyakit. Keadilan lebih sempurna daripada kezaliman. Bahkan dalam kehidupan spiritual, manusia cenderung menghargai kebijaksanaan lebih tinggi daripada kebingungan.

Pandangan semacam ini berkembang dalam berbagai bentuk. Sebagian filsuf memahaminya sebagai kecenderungan alamiah menuju kebaikan. Sebagian lainnya melihatnya sebagai proses aktualisasi potensi manusia. Dalam filsafat Mulla Sadra, manusia bahkan dipahami sebagai realitas yang terus bergerak menuju intensitas keberadaan yang lebih tinggi melalui prinsip Gerak Substansial. Perbedaan bahasa dan kerangka berpikir tidak mengubah satu hal penting: manusia dipahami sebagai makhluk yang belum selesai.

Karena belum selesai, ia terus bergerak.

Kritik terhadap Gagasan Ini

Meski menarik, gagasan bahwa manusia selalu mencari yang lebih baik tidak bebas dari kritik. Sebagian pemikir eksistensialis berpendapat bahwa tidak ada ukuran objektif tentang apa yang disebut lebih baik. Nilai-nilai yang dikejar manusia hanyalah hasil pilihan, budaya, dan interpretasi yang terus berubah.

Kritik ini memiliki kekuatan tertentu. Memang benar bahwa manusia berbeda pendapat tentang apa yang layak dikejar. Sebagian mengejar kekayaan, sebagian mengejar ilmu, sebagian mengejar ketenangan hidup, dan sebagian lagi mengejar pengabdian.

Namun kritik tersebut tidak sepenuhnya menghancurkan tesis sebelumnya. Sebab meskipun manusia berbeda mengenai isi dari kebaikan, mereka tetap menunjukkan pola yang sama: memilih apa yang mereka anggap lebih bernilai. Yang diperdebatkan adalah isi kebaikan, bukan fakta bahwa manusia selalu bergerak menuju sesuatu yang dipandang lebih baik.

Melihat Fenomena Lama dengan Cara Baru

Mungkin selama ini kita mengira bahwa memilih pasangan, pekerjaan, pendidikan, atau jalan hidup hanyalah aktivitas praktis sehari-hari. Padahal di balik tindakan yang tampak biasa itu tersembunyi sebuah struktur yang jauh lebih mendasar.

Setiap pilihan mengungkapkan gambaran tentang manusia yang kita yakini, tentang kehidupan yang kita anggap baik, dan tentang kesempurnaan yang sedang kita cari. Bahkan ketika seseorang gagal, tersesat, atau membuat keputusan yang keliru, ia tetap bergerak berdasarkan keyakinan bahwa ada sesuatu yang lebih layak dikejar daripada apa yang sedang ia tinggalkan.

Karena itu pertanyaan "mengapa manusia tidak pernah memilih yang kurang?" pada akhirnya bukan sekadar pertanyaan tentang pilihan. Ia adalah pertanyaan tentang hakikat manusia itu sendiri.

Mungkin manusia tidak pernah benar-benar mencari objek-objek yang ia kejar. Mungkin yang selalu ia cari adalah bentuk kehidupan yang lebih sempurna daripada dirinya saat ini, meskipun ia tidak selalu mampu menjelaskan dengan tepat seperti apa bentuk kesempurnaan itu.

media
1 Suka
Bagikan

Menderita lah sampai penderitaan tidak sanggup menghadapimu.

Bagikan

BANYAK ORANG SALAH PAHAM TENTANG HUBUNGAN AGAMA, SAINS, DAN KRITIK

Ada sebuah anggapan yang cukup populer di zaman modern:

Sains dianggap unggul karena selalu terbuka terhadap kritik, revisi, dan falsifikasi. Sebaliknya, agama dianggap stagnan karena sejak dahulu sampai sekarang tetap mempertahankan keyakinan yang sama.

Misalnya, umat Islam sejak 1400 tahun lalu tetap meyakini adanya Tuhan, wahyu, dan kenabian. Sementara teori-teori ilmiah terus berubah mengikuti temuan baru.

Dari sini sebagian orang menyimpulkan bahwa agama pada dasarnya anti-kritik.

Namun apakah kesimpulan tersebut benar?

Belum tentu.

Sebab di sini ada perbedaan penting yang sering luput diperhatikan: perbedaan antara perubahan pemahaman dan perubahan objek keyakinan.

Dalam sains, teori berubah karena memang dirancang untuk menjelaskan fenomena empiris. Ketika muncul data baru yang lebih baik, teori lama dapat direvisi atau bahkan ditinggalkan.

Tetapi tidak semua bidang pengetahuan bekerja seperti itu.

Matematika misalnya. Selama ribuan tahun, manusia tidak pernah merevisi bahwa 2 + 2 = 4. Bukan karena matematika anti-kritik, melainkan karena kritik yang ada belum berhasil menunjukkan bahwa proposisi tersebut salah.

Yang berkembang adalah kedalaman pemahaman dan aplikasinya, bukan kebenaran dasarnya.

Hal yang serupa dapat ditemukan dalam agama.

Bahwa seorang Muslim abad ke-7 dan seorang Muslim abad ke-21 sama-sama meyakini adanya Tuhan tidak otomatis berarti tidak ada perkembangan intelektual.

Cara memahami Tuhan, menjelaskan hubungan Tuhan dengan alam, menjelaskan kehendak bebas, kesadaran, jiwa, moralitas, bahkan hubungan agama dengan sains telah mengalami perkembangan yang sangat besar sepanjang sejarah.

Perdebatan antara Mu'tazilah, Asy'ariyah, Maturidiyah, filsafat Ibn Sina, irfan Ibn Arabi, hingga Hikmah Muta'aliyah Mulla Sadra menunjukkan bahwa dunia pemikiran Islam tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Yang relatif tetap adalah inti akidahnya.

Yang terus berkembang adalah cara memahaminya.

Di sisi lain, kritik dari sebagian ateis juga tidak sepenuhnya tanpa dasar.

Mereka melihat bahwa dalam praktiknya banyak orang beragama memang memperlakukan keyakinan mereka sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan. Pertanyaan dianggap ancaman. Keraguan dianggap dosa. Kritik dianggap pemberontakan.

Dalam bentuk seperti ini, agama memang berisiko berubah menjadi dogma yang kebal evaluasi.

Kritik tersebut patut didengar.

Namun ada pertanyaan yang juga layak diajukan kepada sebagian kalangan ateis.

Apakah semua keyakinan mereka sendiri selalu terbuka terhadap kritik?

Ataukah terkadang materialisme, naturalisme, atau ateisme juga dipertahankan sebagai identitas yang tidak kalah kuat dibanding identitas keagamaan?

Pertanyaan ini penting karena menjelaskan asal-usul sebuah keyakinan tidak otomatis menjelaskan kebenaran keyakinan tersebut.

Menjelaskan bahwa seseorang percaya Tuhan karena faktor budaya tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.

Sebaliknya, menjelaskan bahwa seseorang menjadi ateis karena lingkungan akademik tertentu juga tidak membuktikan bahwa Tuhan ada ataupun tidak ada.

Asal-usul keyakinan dan kebenaran keyakinan adalah dua persoalan yang berbeda.

Karena itu diskusi yang lebih adil bukanlah mempertentangkan "agama yang tidak berubah" melawan "sains yang berubah".

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sedang dibahas?

Jika yang dibahas adalah fenomena alam, maka revisi teori merupakan bagian alami dari metode ilmiah.

Tetapi jika yang dibahas adalah persoalan metafisik seperti keberadaan Tuhan, hakikat kesadaran, dasar moralitas, atau alasan mengapa ada sesuatu daripada tidak ada apa-apa, maka persoalannya tidak sesederhana eksperimen laboratorium.

Di wilayah ini, baik teisme maupun ateisme sama-sama memasuki ranah filsafat.

Keduanya harus berargumen.

Keduanya harus mempertanggungjawabkan asumsi-asumsinya.

Keduanya harus terbuka terhadap kritik.

Bahkan pada titik ini muncul kesalahpahaman lain yang cukup populer.

Banyak orang menganggap bahwa hanya orang yang percaya Tuhan yang memikul beban pembuktian.

Logikanya sederhana.

Karena kaum teislah yang mengatakan Tuhan ada, maka merekalah yang harus membuktikannya.

Sementara pihak ateis dianggap tidak memiliki kewajiban apa pun selain menunggu pembuktian tersebut.

Sekilas argumen ini tampak masuk akal.

Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.

Jika seseorang hanya berkata:

"Saya belum yakin Tuhan ada."

Maka posisinya lebih dekat kepada skeptisisme atau penangguhan penilaian.

Ia belum sedang mengajukan klaim tentang realitas.

Namun ketika seseorang berkata:

"Tuhan tidak ada."

Ia tidak lagi sekadar meragukan sebuah klaim.

Ia sedang mengajukan klaim tentang realitas.

Dan setiap klaim tentang realitas memerlukan argumentasi.

Sebab menjelaskan bahwa suatu keyakinan belum terbukti tidak sama dengan membuktikan bahwa keyakinan tersebut salah.

Perbedaan ini sangat penting.

Gagal membuktikan bahwa Tuhan ada tidak otomatis membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.

Sebaliknya, gagal membuktikan bahwa Tuhan tidak ada juga tidak otomatis membuktikan bahwa Tuhan ada.

Karena itu perdebatan filosofis yang sehat tidak berjalan dengan prinsip:

"Siapa yang gagal membuktikan, maka lawannya otomatis benar."

Kedua posisi tetap harus mempertanggungjawabkan argumennya masing-masing.

Theis perlu menjelaskan mengapa keberadaan Tuhan merupakan penjelasan yang masuk akal bagi realitas.

Ateis perlu menjelaskan mengapa realitas dapat dipahami tanpa Tuhan sebagai dasar penjelasannya.

Dengan demikian, baik teisme maupun ateisme bukan sekadar posisi psikologis atau identitas sosial.

Keduanya adalah posisi filosofis yang sama-sama memikul tanggung jawab intelektual.

Mungkin karena itu, ukuran keterbukaan intelektual bukanlah apakah seseorang beragama atau ateis.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah ia masih bersedia memeriksa alasan-alasan yang mendasari keyakinannya sendiri.

Sebab sikap dogmatis tidak hanya mungkin terjadi dalam agama.

Ia dapat muncul di mana pun manusia mulai lebih mencintai keyakinannya daripada kebenaran yang sedang ia cari.

Dan kerendahan hati intelektual tidak hanya mungkin dimiliki oleh seorang skeptis.

Ia juga dapat dimiliki oleh seorang yang beriman.

Pada akhirnya, lawan sejati dari pencarian kebenaran bukanlah agama ataupun ateisme.

Melainkan keyakinan apa pun yang telah memutuskan bahwa dirinya tidak lagi perlu diperiksa.

1 Suka
Bagikan

KURIKULUM BERPIKIR FILOSOFIS

Dari Manusia Reaktif Menjadi Manusia Analitis, Filosofis, dan Beradab Intelektual

FASE 1 — PRA-FILSAFAT: KESADARAN BERPIKIR

1B — Struktur Dasar Pikiran Manusia

ASUMSI (ASSUMPTION)

Ketika Manusia Hidup di Atas Fondasi yang Tidak Pernah Ia Periksa

Sebagian besar manusia menghabiskan hidupnya dengan memperdebatkan kesimpulan, tetapi sangat sedikit yang memeriksa fondasi tempat kesimpulan itu berdiri.

Seseorang dapat berdebat panjang tentang agama, politik, ekonomi, moralitas, pendidikan, bahkan tentang makna hidup. Ia dapat menghabiskan puluhan tahun mempertahankan pandangannya. Ia dapat menguasai berbagai argumen dan mampu menjawab berbagai keberatan. Namun semua kemampuan itu tidak menjamin bahwa titik berangkat pemikirannya benar.

Seorang arsitek yang sangat ahli sekalipun tidak akan mampu menyelamatkan bangunan yang berdiri di atas tanah yang rapuh. Sebuah gedung dapat terlihat megah, simetris, dan mengagumkan dari luar, tetapi apabila fondasinya retak, keruntuhan hanyalah persoalan waktu.

Pikiran manusia bekerja dengan cara yang serupa.

Banyak orang tidak keliru karena tidak mampu berpikir. Mereka keliru karena memulai pikirannya dari asumsi yang salah.

Yang lebih menarik lagi, asumsi sering kali bekerja secara diam-diam. Ia tidak berdiri di depan kesadaran seperti sebuah gagasan yang jelas. Ia bekerja di belakang layar, seperti pondasi yang tersembunyi di bawah bangunan. Kita melihat bangunannya, tetapi tidak melihat apa yang menopangnya.

Seseorang mungkin beranggapan bahwa semua manusia pada dasarnya egois. Orang lain mungkin beranggapan bahwa manusia pada dasarnya baik. Keduanya kemudian membangun teori politik, teori pendidikan, bahkan teori moral yang berbeda. Namun ketika perdebatan terjadi, sering kali mereka tidak membahas asumsi dasarnya. Mereka hanya memperdebatkan cabang-cabang yang tumbuh dari akar yang berbeda.

Akibatnya, diskusi berubah menjadi pertukaran kesimpulan yang tidak pernah bertemu.

Inilah salah satu alasan mengapa banyak perdebatan modern berlangsung begitu lama tetapi menghasilkan begitu sedikit pemahaman.

Orang-orang berbicara tentang apa yang mereka pikirkan, tetapi jarang bertanya mengapa mereka berpikir demikian.

Padahal pertanyaan kedua sering kali jauh lebih penting daripada pertanyaan pertama.

Apa Itu Asumsi?

Dalam kehidupan sehari-hari, kata asumsi sering digunakan untuk menyebut dugaan.

Namun dalam filsafat, maknanya lebih dalam daripada sekadar dugaan biasa.

Asumsi adalah suatu anggapan yang diterima sebagai dasar berpikir tanpa terlebih dahulu dibuktikan atau diperiksa secara memadai.

Ia adalah titik awal.

Ia adalah premis yang diam-diam diterima sebelum proses berpikir berlangsung.

Misalnya, seseorang berkata:

“Semua tindakan manusia pada akhirnya digerakkan oleh kepentingan pribadi.”

Pernyataan ini bukan fakta yang dapat diamati secara langsung.

Ia juga belum tentu pengetahuan.

Ia adalah asumsi.

Dari asumsi itu seseorang dapat membangun teori ekonomi, teori politik, bahkan teori hubungan sosial.

Contoh lain:

“Ilmu pengetahuan adalah satu-satunya sumber kebenaran.”

Banyak orang menerima kalimat ini tanpa pernah mempertanyakannya.

Padahal kalimat tersebut sendiri bukanlah kesimpulan ilmiah.

Ia adalah asumsi filosofis tentang hakikat pengetahuan.

Di sinilah pentingnya membedakan asumsi dari beberapa hal lain yang sering disamakan dengannya.

Fakta adalah sesuatu yang dapat diverifikasi.

Bahwa air membeku pada suhu tertentu dalam kondisi tertentu adalah fakta.

Bahwa bumi mengelilingi matahari adalah fakta.

Asumsi berbeda dari fakta karena asumsi diterima sebelum fakta diperiksa.

Pengetahuan adalah keyakinan yang memiliki dasar pembenaran yang memadai.

Asumsi belum tentu memiliki pembenaran yang cukup.

Ia sering kali justru menjadi titik awal pencarian pembenaran.

Opini adalah pendapat seseorang mengenai suatu persoalan.

Sebuah opini biasanya dibangun di atas asumsi tertentu.

Karena itu dua orang dapat memiliki opini berbeda karena mereka memiliki asumsi yang berbeda.

Keyakinan adalah sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang.

Asumsi dapat menjadi bagian dari keyakinan, tetapi tidak semua keyakinan adalah asumsi.

Sedangkan prasangka adalah penilaian yang terbentuk sebelum bukti diperoleh.

Prasangka sering kali merupakan bentuk asumsi yang telah bercampur dengan emosi.

Dengan demikian, asumsi dapat dipahami sebagai fondasi tersembunyi yang memungkinkan seluruh bangunan pemikiran berdiri.

Mengapa Kita Sering Tidak Menyadari Asumsi Kita?

Pertanyaan yang menarik adalah mengapa asumsi begitu sulit dikenali.

Jawabannya sederhana sekaligus rumit.

Karena manusia tidak berpikir dari luar pikirannya sendiri.

Seekor ikan yang hidup sepanjang hidupnya di dalam air mungkin tidak pernah menyadari keberadaan air.

Bukan karena air tidak penting.

Justru karena air terlalu dekat dengannya.

Demikian pula asumsi.

Ia begitu dekat dengan cara kita berpikir sehingga sering kali tidak terlihat.

Seseorang yang lahir dalam lingkungan tertentu akan menyerap berbagai asumsi tanpa menyadarinya.

Tentang agama.

Tentang negara.

Tentang keluarga.

Tentang laki-laki dan perempuan.

Tentang kesuksesan.

Tentang kebahagiaan.

Tentang kehidupan yang dianggap normal.

Sebagian besar asumsi ini tidak pernah diajarkan secara formal.

Ia diserap melalui kebiasaan, budaya, bahasa, pendidikan, media, dan lingkungan sosial.

Karena diterima sejak awal, ia tampak begitu wajar sehingga tidak lagi dipertanyakan.

Padahal apa yang tampak wajar sering kali hanyalah sesuatu yang sudah terlalu lama kita lihat.

Asumsi Sebagai Fondasi Tersembunyi Pikiran

Setiap sistem pemikiran selalu berdiri di atas sejumlah asumsi.

Tidak ada pengecualian.

Agama memiliki asumsi.

Filsafat memiliki asumsi.

Sains memiliki asumsi.

Politik memiliki asumsi.

Bahkan skeptisisme memiliki asumsi.

Seseorang yang berkata bahwa Tuhan ada memulai pemikirannya dari asumsi tertentu tentang realitas.

Seseorang yang berkata bahwa Tuhan tidak ada juga memulai pemikirannya dari asumsi tertentu.

Perdebatan antara keduanya sering kali tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbanyak argumen.

Mengapa?

Karena sumber perbedaan sering kali terletak lebih dalam daripada argumen itu sendiri.

Sumbernya terletak pada asumsi.

Hal yang sama dapat ditemukan dalam politik.

Dua orang dapat sama-sama menginginkan masyarakat yang adil.

Namun yang satu mendukung kebebasan individu yang luas, sedangkan yang lain mendukung kontrol negara yang kuat.

Perbedaannya sering kali bukan pada tujuan akhir.

Perbedaannya berada pada asumsi tentang hakikat manusia.

Apakah manusia pada dasarnya dapat dipercaya?

Ataukah manusia memerlukan kontrol yang ketat?

Dalam ekonomi, perbedaan teori juga lahir dari asumsi yang berbeda.

Tentang pasar.

Tentang manusia.

Tentang kepemilikan.

Tentang motivasi.

Dalam hubungan sosial pun demikian.

Seseorang yang menganggap manusia pada dasarnya tulus akan menjalani hubungan secara berbeda dengan seseorang yang menganggap manusia pada dasarnya manipulatif.

Keduanya hidup dalam dunia yang sama.

Tetapi asumsi mereka membuat mereka melihat dunia yang berbeda.

Karena itu, banyak perdebatan gagal mencapai titik temu.

Bukan karena para peserta diskusi kurang cerdas.

Melainkan karena mereka sedang memperdebatkan cabang-cabang pohon tanpa pernah membahas akar yang menopangnya.

Mereka mempertanyakan kesimpulan.

Tetapi tidak mempertanyakan asumsi yang melahirkan kesimpulan tersebut.

Dan selama asumsi tidak diperiksa, perdebatan sering kali hanya menghasilkan lingkaran yang berputar tanpa akhir.

Di sinilah filsafat menunjukkan perannya yang paling mendasar.

Filsafat bukan sekadar upaya menemukan jawaban.

Filsafat adalah keberanian untuk memeriksa pertanyaan yang selama ini dianggap tidak perlu ditanyakan.

Dan di antara semua pertanyaan itu, salah satu yang paling penting adalah:

“Asumsi apa yang selama ini saya terima tanpa pernah benar-benar saya periksa?”

Bagikan

Salam sejahtera untuk semua

2 Suka
Bagikan
  1. Surah Al-Anbiya
    رَبِّ لَا تَذَرۡنِىۡ فَرۡدًا وَّاَنۡتَ خَيۡرُ الۡوٰرِثِيۡنَ ۖۚ‏

Rabbi laa tadzarnii fardan wa anta Khairul waaritsiin.

Artinya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.” (Q.S. Al-Anbiya: 89).

2 Surah Al-Furqan
يَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا هَبۡ لَـنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعۡيُنٍ

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzuriyyatinaa qurrota a’yun.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati.” (Q.S. Al-Furqan: 74).

  1. Surah Al-Qashash
    رَبِّ اِنِّىۡ لِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ اِلَىَّ مِنۡ خَيۡرٍ فَقِيۡرٌ‏

Rabbi innii ilmaa anzalta ilayya min khoirin faqiirun.

Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Q.S. Al-Qashash: 24).

DOA:
(" Robbi hablii milladunka zaujan thoyyiban wayakuuna shoohiban lii fiddini waddunya wal aakhiroh.

Artinya: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat.”)

1 Suka
Bagikan

Jangan menambah luka kepada seseorang yang sedang berjuang mencari cara untuk sembuh.

Don't add insult to injury to someone who is struggling to find a way to heal.

2 Suka
1
Bagikan

Assalamualaikum, salam kenal semuanya🤗
Aku iseng main aplikasi ini siapa tau saya bisa kenal bahkan dekat dengan orang yg bisa membimbing dan membawa saya ke jalan yg lebih baik🥹🙏

1
Bagikan

Mau tau ga, orang yang real di dating app tuh yang kayak mana? Yup, mereka yang gamau perkenalan duluan, secara look bukan tipikal yang cowo yang banyak penggemar, punya sosmed dan GA LOVE BOMBING. Believe me.

1
Bagikan